Posted on Leave a comment

Keadilan Rasulullah di Antara Istri-istrinya

 

Keadilan Rasulullah di Antara Istri-istrinya

Diriwayatkan dari Anas bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai sembilan orang istri. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi waktu di antara mereka, maka bagian tersebut tidak akan sampai kepada istri pertama kecuali dalam waktu sembilan hari. Maka, pada setiap malam, mereka berkumpul di sebuah rumah di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke sana.

Ketika beliau berada di rumah Aisyah, datanglah Zainab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengulurkan tangan kepadanya, maka dia berkata, ‘Ini adalah Zainab.’ Segera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tangannya. Kedua wanita itu akhirnya beradu mulut sampai keduanya saling menaburkan debu ke muka yang lain.

Sementara itu, tibalah waktunya shalat dilaksanakan. Lalu lewatlah Abu Bakar dan mendengar suara mereka berdua kemudian ia berkata, ‘Keluarlah, wahai Rasulullah!!’ Dia segera menaburkan debu ke muka mereka, lalu keluarlah Rasulullah.”

 

Rasulullah Menetapkan Hukum dan Keadilan

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa dia berkata. “Rasulullah membagi waktu dan berlaku secara adil. Beliau bersabda,

‘Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku miliki. Maka, janganlah Engkau mencelaku dalam apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki (Yang dimaksudkan adalah hati manusia).’” (HR pemilik kitab Sunan)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Sesungguhnya Saudan binti Zam’ah memberikan hari bagiannya kepada Aisyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bagian kepada Aisyah harinya ditambah hari Saudah.”

Aisyah berkata, “Di dalam sakitnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada istri-istrinya. Segera mereka berkumpul. Beliau bersabda,

‘Sesungguhnya aku tidak mampu untuk berkeliling kepada kalian. Jika kalian berpendapat untuk memberi izin kepadaku berada di dekat Aisyah, maka silakan kalian lakukan.’ Maka beliau mendapatkan izin.” (HR Abu Dawud)

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa mempunyai dua orang istri dan tidak dapat berlaku adil di antara keduanya, maka kelak di hari kiamat dia datang, dengan bahu yang rendah sebelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Miring.” (HR pemilik kitab Sunan)

Hadits ini juga dibicarakan oleh Imam Tirmidzi. Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Hakim dan berkata, “Shahih berdasarkan persyaratan Imam Bukhari dan Muslim.” Sementara dalam naskah Imam Abu Dawud disebutkan,

“Barangsiapa mempunyai dua orang istri, namun dia cenderung kepada salah satu dari keduanya, maka kelak di hari kiamat dia akan datang dengan sebagian tubuhnya yang miring.”

 

Mereka yang Bersikap Adil kepada Istrinya

Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abdur Rahman, dari Ummi Salamah bahwa dia berkata, “Ketika Rasulullah menikahiku, beliau bermukim di sisiku selama tiga hari. Kemudian beliau bersabda,

Sesungguhnya bagian ini tidaklah dimaksudkan untuk meremehkan keluargamu. Jika kamu menghendaki, maka aku memberikan bagian selama tujuh hari kepadamu. Namun, jika aku harus memberikan bagian selama tujuh hari kepadamu, maka aku pun akan memberikan bagian selama tujuh hari kepada istri-istriku.’” (HR Muslim, Malik, Abu Dawud, dan Nasa’i)

Abdullah bin Amr ibnul-Ash mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya,

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan berada di sisi Allah. Yaitu, di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yang berada di sebelah kanan Allah. Kedua tangannya kanan semua. Merekalah orang-orang yang berbuat adil di dalam masalah hukum dan kepada keluarganya, dan mereka sama sekali tidak berpaling.” (HR Muslim dan lainnya)

 

Berdiam di Dekat Istri yang Perawan Selama Tujuh Hari dan Istri yang Janda Selama Tiga Hari

Dalam riwayat Bukhari dan an-Nasa’i diriwayatkan dari Anas bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkeliling kepada istri-istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam satu waktu di malam atau siang hari. Aku ditanya, ‘Apakah beliau mampu melakukannya?’ Aku menjawab, ‘Kami mendapatkan riwayat bahwa beliau mendapatkan anugerah kekuatan seperti kekuatan tiga puluh orang.’”

Anas berkata, “Merupakan sebagian dari sunnah Rasul, ketika seseorang menikahi seorang gadis perawan di atas istri yang sudah janda, maka orang tersebut harus berdiam bersama istri perawan tersebut selama tujuh hari, barulah kemudian waktunya dibagi. Sementara ketika menikahi seorang janda, maka dia harus berdiam bersamanya selama tiga hari, barulah kemudian waktunya dibagi.” Hadits ini diriwayatkan oleh imam enam, kecuali Imam Nasa’i.

Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Baihaqi, meski dengan naskah yang berbeda [7/302] dan Imam Khatib [10/406]. Diriwayatkan pula oleh ibnu Ishaq dari Abu Qalabah dalam bentuk hadits yang ringkas. Juga diriwayatkan Imam Darimi [2/144], Ibnu Majjah [1916], dan Daruquthni [409].

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Anas berkata, “Ketika Rasulullah menikahi Shafiyah, maka beliau berdiam di sisinya selama tiga hari, sementara Shafiyah adalah seorang janda.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *