Posted on Leave a comment

Manusia yang Mempunyai Hak Paling Besar terhadap Kaum Wanita

 

Manusia yang Mempunyai Hak Paling Besar terhadap Kaum Wanita

Dalam riwayat al-Bazaar dan Hakim disebutkan bahwa Aisyah berkata,

”Aku Pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia yang paling besar haknya terhadap seorang wanita?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Suaminya.’ Aku bertanya, ‘Lantas siapa yang paling besar haknya terhadap seorang lelaki?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibunya.’”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Datanglah seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah delegasi kaum wanita yang disuruh untuk menghadap kepadamu. Jihad itu sudah ditetapkan kepada kaum lelaki. Jika mereka mendapatkan kemenangan, maka mereka mendapatkan pahala. Dan jika mereka terbunuh, maka mereka berada di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan anugerah. Sementara kami kaum wanita adalah orang yang menegakkan mereka. Lantas apa bagian kami dari semua itu?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‘Sampaikan kepada semua wanita yang kamu temui. Sesungguhnya taat kepada suami dan mengakui haknya, akan sebanding dengan semua itu. Sementara sedikit sekali dari kalian yang mau melakukannya.’”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Bazzar dalam bentuk seperti ini secara singkat. Sementara dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, di bagian akhir hadits dia berkata. “Kemudian datanglah seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu. Ada yang Anda kenal dan ada yang tidak. Itulah yang menjadi tugasku untuk datang kepadamu. Allah adalah Tuhan kaum lelaki dan kaum wanita, dan engkau pun utusan Allah kepada kaum lelaki dan kaum wanita. Allah mewajibkan berjuang kepada kaum lelaki, Jika mendapat kemenangan, maka mereka mendapat pahala. Dan, jika mereka syahid, maka mereka akan hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan anugerah. Lantas ketaatan apakah yang dapat menandingi amalan mereka?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‘Taat kepada suami mereka dan mengakui hak mereka, namun hanya sedikit dari kalian yang mampu melakukannya.’”

 

Wanita yang Dimurkai Suaminya

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga orang yang tidak diterima shalatnya oleh Allah …. (dan seterusnya. Di dalam hadits itu disebutkan wanita yang dimurkai suami).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mu’jam Al-Ausath, dari riwayat oleh Abdullah bin Muhammad bin Uqail. Lafaz adalah miliknya. Juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah dalam kedua kitan Shahih-nya, dari riwayat Zubair bin Muhammad.

Dalam hadits riwayat ibnu Hibban disebutkan bahwa Fudhalah bin Ubaid mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga kelompok orang yang tidak akan ditanyai (pada hari kiamat nanti)… (diantaranya di sebutkan, ‘Wanita yang ditinggal pergi suaminya, sementara sang suami sudah mencukupi kebutuhan duniawinya. Kemudian wanita tersebut mengkhianati suaminya setelah kepergiannya.’).”

Diriwayatkan Imam Thabrani dan Hakim, “Maka, dia memamerkan perhiasannya”, sebagai ganti kata mengkhianatinya. Mereka berkomentar, “Hadits ini shahih menurut persyaratan Imam Bukhari dan Muslim, dan aku tidak pernah mengetahui cacat hadits ini.”

Ibnu Umar dalam sebuah hadits marfu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada dua orang yang shalatnya tidak pernah melewati kepala mereka … (dan seterusnya. Diantaranya disebutkan, ‘Wanita yang durhaka kepada suaminya, sampai dia kembali menaati suaminya).” (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

 

Janganlah Seorang Wanita Menggambarkan Wanita Lain Kepada Suaminya

Ibnu Mas’ud r.a mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah seorang wanita melakukan hubungan secara langsung dengan seorang wanita. Kemudian menggambarkan wanita itu kepada suaminya, hingga seolah-olah sang suami itu melihat dengan matanya sendiri.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam riwayat an-Nasa’i diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar bahwa dia berkata, “Rasulullah mempersiapkan sebuah pakaian berkerudung untuk Fathimah sementara di dekatnya terdapat sebuah bantal yang isinya adalah bunga Idzhir.”

 

Pastilah Aku akan Menyuruh Wanita untuk Bersujud kepada Suaminya

Diriwayatkan dari Anas bin Malik mengenai kisah sujudnya unta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits marfu. Beliau bersabda,

“Tidaklah pantas seorang manusia bersujud kepada manusia. Andaikan seorang manusia pantas melakukan sujud kepada manusia, pastilah aku akan menyuruh kaum wanita untuk bersujud kepada suaminya, mengingat begitu besarnya hak seorang suami kepada mereka. Andai saja mulai dari telapak kaki hingga belaian rambut suaminya itu terdapat luka yang mengalirkan nanah dan belatung, kemudian dia menjilatnya, maka dia belum mampu melaksanakan semua hak suaminya.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang baik. Semua perawinya adalah orang yang dapat dipercaya dan terkenal. Hadits yang sama diriwayatkan oleh Imam Bazzar. Sementara Imam Nasa’i meriwayatkan hadits tersebut secara singkat, Juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-Nya dari hadits Abu Hurairah r.a. dengan naskah yang sama namun singkat, tanpa penyebutan kalimat, “Dan andaikan … hingga akhir.” Pengertian hadits ini juga diriwayatkan di dalam hadits Abu Sa’id di atas.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa bahwa dia berkata, “Ketika datang dari Suriah, Muadz bin Jabal langsung melakukan sujud kepada Rasulullah sehingga beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan ini?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rasulullah , aku baru saja datang dari Suriah. Aku Mendapatkan mereka selalu melakukan sujud kepada Beatrec dan uskup mereka. Sehingga, aku pun ingin melakukannya kepada Anda.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Jangan kamu lakukan. Sebab, jika kau memang ingin menyuruh sesuatu untuk bersujud kepada sesuatu, pastilah aku akan menyuruh kaum wanita untuk melakukan sujud kepada suaminya. Demi zat yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya, seorang wanita tidak akan dianggap melakukan hak Tuhannya, sampai dia melakukan hak suaminya.’” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Sementara dalam naskah Ibnu Majah disebutkan, “Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Janganlah kalian melakukannya. Sebab, jika aku memang menyuruh seseorang untuk melakukan sujud kepada selain Allah, pastilah aku akan menyuruh kaum wanita untuk bersujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seorang wanita tidak akan mampu melakukan hak Tuhannya sampai dia melaksanakan hak suaminya. Jika suaminya meminta dirinya, sementara dia berada di atas gerobak, maka dia tidak boleh menolaknya.’”

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Andaikan saja aku menyuruh kepada seseorang untuk melakukan sujud kepada orang lain, pastilah aku akan menyuruh seorang wanita untuk melakukan sujud kepada suaminya. Bahkan, andaikan seorang lelaki menyuruh istrinya untuk beralih dari gunung merah kepada gunung hitam dan kembali lagi ke gunung merah, maka dia pun harus mau melakukannya.”

 

Apa Hak Suami terhadap Istrinya?

Dalah hadits ath-Thabrani disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa sesungguhnya seorang wanita dari bani Khats’am datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakan kepadaku mengenai hak seorang suami kepada istrinya, karena sesungguhnya aku adalah wanita yang masih lajang! Jika aku memang mampu, maka aku akan menikah, dan jika tidak, maka aku akan tetap menjadi lajang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Adapun hak suami kepada istrinya adalah jika sang suami meminta istrinya, sementara dia berada di atas gerobak, maka sang istri tidak boleh menghalangi tubuhnya. Sebagian dari hak suami kepada istrinya adalah seorang istri tidak boleh melakukan puasa sunnah, kecuali mendapat izinnya. Jika dia memaksa melakukannya, maka dia hanya akan lapar dan dahaga, sementara puasa itu tidak pernah diterima darinya. Dia pun tidak keluar dari rumahnya, kecuali dengan izin suaminya. Jika dia melakukan, maka dia akan mendapat kutukan dari malaikat langit, malaikat rahmat dan malaikat siksa, sampai dia pulang kembali ke rumah.”

Wanita itu berkata, “Sudah pasti, aku tidak akan pernah menikah untuk selamanya.”

Zaid bin Arqam mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seorang wanita tidak akan dapat melaksanakan hak Allah sampai dia melaksanakan hak suaminya semaunya. Andaikan sang suami memintanya, sementara dia berada di ataas gerobak maka dia tidak boleh menghalangi dirinya.” (HR Thabrani, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Ahmad)

 

Dia Harus Datang kepada Suaminya Meski Di Atas Tanur

Diriwayatkan dari Thalaq bin Ali r.a. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika seorang suami mengundang istrinya untuk suatu kepentingan, maka sang istri harus datang kepadanya, meski sang istri berada di atas tanur.” (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika seorang lelaki mengajak istrinya untuk ke ranjang, namun dia tidak mau datang, kemudian sang suami marah kepadanya semalaman, maka malaikat mengutuk wanita itu hingga esok pagi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Sementara itu, di dalam riwayat Imam Bukkari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Zat yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya. Tidaklah ada seorang lelaki yang mengajak istrinya untuk datang ke ranjangnya, kemudian sang istri menolaknya, melainkan apa yang berada di langit murka kepada wanita itu hingga sang suami meridhainya.”

 

Dia Keluar dari Rumahnya Sementara Suaminya tidak Suka

Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya ketika seorang wanita keluar dari rumahnya, sementara suaminya tidak suka, maka dia akan dikutuk oleh semua malaikat langit, segala sesuatu yang lewat di atas langit, selain jin dan manusia, sampai dia pulang ke rumahnya.” (HR Ath-Thabrani)

 

Allah tidak Akan Melihat Kepada Seorang Wanita

Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak pernah merasa berterima kasih kepada suaminya, sementara dia tidak dapat melepaskan diri darinya.” (HR an-Nasa’i, Hakim, dan al-Bazzar)

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari bidadari berkata, ‘Janganlah kamu menyakitinya, semoga Allah memerangimu. Sesungguhnya dia di sisimu hanyalah mampir sementara, karena sebentar lagi dia akan terpisah darimu dan beralih kepada kami.’” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *