Posted on Leave a comment

Wanita-wanita yang Telah Berislam tetapi Suami Mereka Kafir

 

Wanita-wanita yang Telah Berislam tetapi Suami Mereka Kafir

Dalam hadits riwayat Malik disebutkan bahwa Ibnu Syihab berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa banyak wanita pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memeluk Islam. Namun, tetap berada di kampung halamannya, tidak ikut melakukan hijrah. Juga ketika mereka memeluk agama Islam, suami mereka tetap kafir.

Sebagian di antara mereka adalah anak gadis Walid bin Mughirah. Dia sendiri adalah istri Shafwan bin Umayyah. Wanita tersebut masuk Islam pada saat penaklukan kota Mekah. Sementara Shafwan sendiri melarikan diri dari Islam. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan anak pamannya, yaitu Wahab bin Umairah kepada Shafwan dengan membawa selendang Rasulullah sebagai jaminan keamanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika dia memang rela menerima masalah ini, maka aku pun akan menerimanya. Jika tidak, maka dia harus melakukan perjalanan selama dua bulan.’

Ketika Shafwan datang, dia berteriak dengan suara yang sangat keras, ‘Wahai Muhammad, Wahab bin Umair ini datang kepadaku dengan membawa selendangmu. Dia beranggapan bahwa kamu mengundangku untuk datang kepadamu. Jika kau rela dengan masalah ini, maka aku pun harus menerimanya. Jika tidak, maka engkau akan mengusirku dalam jarak perjalanan dua bulan.’
Rasulullah bersabda, ‘Turunlah, wahai Abu Wahab.’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan turun sampai kamu memberikan penjelasan kepadaku.’ Maka, Rasulullah bersabda, ‘Justru kamu harus berjalan selama empat bulan.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat untuk melakukan perang melawan suku Hawazin. Beliau mengirim utusan kepada Shafwan untuk meminjam alat perang dan senjata. Dia bertanya, ‘Dengan sukarela atau harus dipaksa?’ Utusan itu menjawab, ‘Dengan sukarela.’ Maka, Shafwan memberikan pinjaman berupa alat dan senjata. Kemudian dia pulang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara dia masih tetap kafir.

Dia pun ikut terlibat dalam perang Hunain dan thaif meski tetap sebagai orang kafir, sementara istrinya sudah masuk Islam. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin menceraikan mereka berdua, sampai akhirnya Shafwan masuk Islam. Maka tetaplah istrinya di sisinya dengan pernikahan tersebut, Jarak antara keislaman Shafwan dengan istrinya adalah sekitar dua bulan.”

 

Mereka Tertarik dengan Wanita

Diriwayatkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa dia berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah dalam perang Bani Musthaliq dan mendapatkan tawanan dari bangsa Arab. Kemudian kami tertarik dengan kaum wanita, sementara kebujangan bagi kami merupakan sesuatu yang berat dan kami suka melakukan sanggama terputus. Maka, kami berkata, ‘Kita melakukan sanggama terputus sebelum bertanya kepada Rasulullah, sementara beliau di antara kita,’ Maka, kami pun bertanya kepadanya. Beliau kemudian bersabda,

‘Jangan, hendaknya kalian jangan melakukannya. Tidaklah ada seorang manusia yang akan terwujud hingga hari kiamat, melainkan dia pasti terwujud,’” (HR. Muslim)

Asma’ binti Zaid r.a. mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian membunuh anak kalian secara terselubung. Karena persetubuhan yang dilakukan ketika sang istri tengah menyusui anaknya akan mengakibatkan lemahnya sang anak. Sehingga, akan menyebabkannya terjungkal dari kudanya.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *